Translate

Tuesday, May 23, 2017

0 komentar
Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh,,, Selamat pagi, siang, sore, malam, subuh... :)


MAKALAH
ILMU SOSIAL dan BUDAYA DASAR
“MANUSIA dan PERADABAN”


DISUSUN OLEH :

-
AHMAD QODRI
(F1B 015 003)
-
IKHLAS ANUGERAH
(F1B 015 035)
-
LALU GUSMAN TAJRI
(F1B 014 051)
-
MUHAMMAD AMRI AKBAR
(F1B 015 062)
-
RAMADHAN WIBI SURYA AJI
(F1B 015 079)
-
HENDRA KURNIAWANSYAH.P
(F1B 012 037)
-
NOVIA NITTA RIZKIA RAHMI
(F1B 014 077)









JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MATARAM
2017




KATA PENGANTAR
Dengan asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya milik Allah atas segala nikmat, yang bersifat lahir maupun batin, yang tidak pernah berhenti Dia karuniakan kepada kita, terutama nikmat Iman,Islam, Ihsan, Makrifat, Tauhid, dan Takwa.
Shalawat, salam, serta berkah semoga senantiasa Allah Swt. Limpahkan kepada Nabi kita, Rasul kita, Cahaya kita, dan Pemimpin kita, Muhammad Saw., beserta keluarga, keturunan, dan para sahabat beliau. Semoga Allah Swt. senantiasa mencurahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada seluruh muslimin dan muslimat yang setia kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Puji dan Syukur kami panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan serta curahan-Nya lah kami dapat menyelesaikan “Manusia dan Peradaban”.

Mataram, 27 Maret 2017



Daftar isi
Kata Pengantar …….
Bab I. PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
1.2.        Rumusan Masalah
1.3.        Tujuan dan Manfaat

Bab II. PEMBAHASAN
2.1.        Hakikat Manusia menurut pandangan para ahli dan agama
2.2.        Pengertian Adab dan Peradaban
2.3.        Pengertian Manusia sebagai Makhluk Beradab dan Masyarakat Adab
Bab III.  PENUTUP
3.1.     Kesimpulan
3.2.     Saran
Daftar Pustaka


I.                  PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang mempunyai akal, jasmani dan rohani. Melalui akalnya manusia dituntut untuk berfikir menggunakan akalnya untuk menciptakan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Melalui jasmaninya manusia dituntut untuk menggunakan fisik atau jasmaninya melakukan sesuatu yang sesuai dengan fungsinya dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dan melalui rohaninya manusia dituntut untuk senantiasa dapat mengolah rohaninya yaitu dengan cara beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.
Antara manusia dan peradaban mempunyai hubungan yang sangat erat karena diantara keduanya saling mendukung untuk menciptakan suatu kehidupan yang sesuai kodratnya.Suatu peradaban timbul karena ada yang menciptakannya yaitu diantaranya factor manusianya yang melaksanakan peradaban tersebut.
Suatu peradaban mempunyai wujud, tahapan dan dapat berevolusi atau berubah sesuai dengan perkembangan zaman.Dari peradaban pula dapat mengakibatkan suatu perubahan pada kehidupan social.Perubahan ini dapat diakibatkan karena pengaruh modernisasi yang terjadi di masyarakat.
Masyarakat yang beradab dapat diartikan sebagai masyarakat yang mempunyai sopan santun dan kebaikan budi pekerti. Ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian sebagai makna hakiki manusia beradab dalam pengertian lain adalah suatu kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.
Dalam rangka melaksanakan tugas mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, maka kami membuat makalah tentang Manusia dan Peradaban untuk mengetahui tentang pengertian adab dan peradaban, mengetahui pengertian manusia sebagai makhluk beradab dan masyarakat adab, mengetahui pengertian evolusi dan apa saja tahapan-tahapan peradaban, mengetahui pengertian dan cakupan kebudayaan sosial, mengetahui apa saja wujud dari peradaban, mengetahui pengertian tradisi, modernisasi dan masyarakat madani, mengetahui pengertian ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian sebagai makna hakiki manusia beradab, dan mengetahui problematika peradaban bagi kehidupan manusia.

1.2.          Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana hakikat manusia menurut pandangan para ahli dan agama ?
2.      Apakah pengertian dari adab dan peradaban?
3.      Evolusi dan Tahapan-tahapan Peradaban?
4.      Apakah pengertian manusia sebagai makhluk beradab dan masyarakat adab?
5.      Bagaimana wujud dari peradaban?
6.      Bagaimana dinamika peradaban global pada kehidupan manusia?
7.      Bagaimana peradaban dan problematikanya bagi kehidupan manusia?


1.3.        Tujuan dan Manfaat
2.    Mengetahui  hakikat manusia menurut pandangan para ahli dan agama.
3.    Mengetahui pengertian dari adab dan peradaban.
4.    Mengetahui Evolusi dan Tahapan-tahapan Peradaban.
5.    Mengetahui pengertian manusia sebagai makhluk beradab dan masyarakat adab
6.    Mengetahui wujud dari peradaban.
7.    Mengetahui dinamika peradaban global pada kehidupan manusia
8.    Mengetahui peradaban dan problematikanya bagi kehidupan manusia.



II.               PEMBAHASAN

2.1.        Hakikat Manusia menurut pandangan para ahli dan agama
a.    Manusia menurut pandangan para ahli

1.    Pandangan Psikoanalitik
Dalam pandangan psikoanalitik diyakini bahwa pada hakikatnya manusiadigerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif.Halini menyebabkan tingkah laku seorang manusia diatur dan dikontrol olehkekuatan psikologis yang memang ada dalam diri manusia.Terkait hal ini dirimanusia tidak memegang kendali atau tidak menentukan atas nasibnya seseorangtapi tingkah laku seseorang itu semata-mata diarahkan untuk mememuaskan kebutuhan dan insting biologisnya.

2.    Pandangan Humanistik
Para humanis menyatakan bahwa manusia memiliki dorongan-dorongandari dalam dirinya untuk mengarahkan dirinya mencapai tujuan yang positif.Mereka menganggap manusia itu rasional dan dapat menentukan nasibnya sendiri.Hal ini membuat manusia itu terus berubah dan berkembang untuk menjadipribadi yang lebih baik dan lebih sempurna. Manusia dapat pula menjadi anggotakelompok masyarakat dengan tingkah laku yang baik. Mereka juga mengatakanselain adanya dorongan-dorongan tersebut, manusia dalam hidupnya jugadigerakkan oleh rasa tanggung jawab sosial dan keinginan mendapatkan sesuatu.Dalam hal ini manusia dianggap sebagai makhluk individu dan juga sebagaimakhluk sosial[1].

3.    Pandangan Martin Buber
Martin Buber mengatakan bahwa pada hakikatnya manusia tidak bias disebut ‘ini’ atau ‘itu’.Menurutnya manusia adalah sebuah eksistensi ataukeberadaan yang memiliki potensi namun dibatasi oleh kesemestaan alam. Namunketerbatasan ini hanya bersifat faktual bukan esensial sehingga apayang akandilakukannya tidak dapat diprediksi. Dalam pandangan ini manusia berpotensiuntuk menjadi ‘baik’ atau ‘jahat’, tergantung kecenderungan mana yang lebih besardalam diri manusia. Hal ini memungkinkan manusia yang ‘baik’ kadang-kadangjuga melakukan ‘kesalahan’.

4.    Pandangan Behavioristik
Pada dasarnya kelompok Behavioristik menganggap manusia sebagai makhluk yang reaktif dan tingkah lakunya dikendalikan oleh faktor-faktor dari luardirinya, yaitu lingkungannya.Lingkungan merupakan faktor dominan yangmengikat hubungan individu.Hubungan ini diatur oleh hukum-hukum belajar,seperti adanya teori conditioning atau teori pembiasaan dan keteladanan.Merekajuga meyakini bahwa baik dan buruk itu adalah karena pengaruh lingkungan.Dari uraian di atas bisa diambil beberapa kesimpulan yaitu;
a.    Manusia pada dasarnya memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkanhidupnya.
b.    Dalam diri manusia ada fungsi yang bersifat rasional yang bertanggungjawab atas tingkah laku intelektual dan sosial individu.
c.     Manusia pada hakikatnya dalam proses ‘menjadi’, dan terus berkembang.
d.    Manusia mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif, mampumengatur dan mengendalikan dirinya dan mampu menentukan nasibnyasendiri.
e.    Dalam dinamika kehidupan individu selalu melibatkan dirinya dalam usahauntuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain, dan membuatdunia menjadi lebih baik.
f.      Manusia merupakan suatu keberadaan yang berpotensi yangperwujudannya merupakan ketakterdugaan. Namun potensi itu bersifatterbatas.
g.    Manusia adalah makhluk Tuhan, yang yang kemungkinan menjadi “baik” atau ”buruk”.
h.    Lingkungan adalah penentu tingkah laku manusia dan tingkah laku itumerupakan kemampuan yang dipelajari.[2]

Beberapa pendapat lain tentang hakikat manusia adalah:

1.    Pandangan Mekanistik
Dalam pandangan mekanistik semua benda yang ada di dunia ini termasukmakhluk hidup dipandang sebagai sebagai mesin, dan semua proses termasukproses psikologi pada akhirnya dapat diredusir menjadi proses fisik dan kimiawi.Lock dan Hume, berdasarkan asumsi ini memandang manusia sebagai robot yangpasif yang digerakkan oleh daya dari luar dirinya. Menurut penulis pendapat iniseperti menafikan keberadaan potensi diri manusia sehingga manusia hanya bias diaktivasi oleh kekuatan yang ada dari luar dirinya.

2.    Pandangan Organismik
Pandangan organismik menganggap manusia sebagai suatu keseluruhan(gestalt), yang lebih dari pada hanya penjumlahan dari bagian-bagian.Dalampandangan ini dunia dianggap sebagai sistem yang hidup seperti halnya tumbuhandan binatang.Organismik menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia bersifat aktif, keutuhan yang terorganisasi dan selalu berubah. Manusia menjadi sesuatukarena hasil dari apa yang dilakukannya sendiri, karena hasil mempelajari.Menurut penulis pandangan ini mengakui adanya kemampuan aktualisasi dirimanusia melalui pengembangan potensi-potensi yang telah ada pada diri manusia.

3.    Pandangan Kontekstual
Dalam pandangan kontekstual manusia hanya dapat dipahami dalamkonteksnya.Manusia tidak independent, melainkan merupakan bagian darilingkungannya.Manusia adalah individu yang aktif dan organisme sosial.Untukbisa memahami manusia maka pandangan ini megharuskan mengenalperkembangan manusia secara utuh seperti memperhatihan gejala-gejala fisik,psikis, dan juga lingkungannya, serta peristiwa-peristiwa budaya dan historis[3].



b.    Manusia Menurut Pandangan Islam.
Ada beberapa dimensi manusia dalam pandangan Islam, yaitu:
1.    Manusia Sebagai Hamba Allah (Abd Allah)
Sebagai hamba Allah, manusia wajib mengabdi dan taat kepada Allah selaku Pencipta karena adalah hak Allah untuk disembah dan tidak disekutukan. Bentuk pengabdian manusia sebagai hamba Allah tidak terbatas hanya pada ucapan danperbuatan saja, melainkan juga harus dengan keikhlasan hati, seperti yangdiperintahkan dalam surah Bayyinah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supayamenyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankanagama yang lurus …,” (QS:98:5). Dalam surah adz- Dzariyat Allah menjelaskan:“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku.”(QS51:56).Dengan demikian manusia sebagai hamba Allah akan menjadi manusiayang taat, patuh dan mampu melakoni perannya sebagai hamba yang hanyamengharapkan ridha Allah.

2.    Manusia Sebagai al- Nas
Manusia, di dalam al- Qur’an juga disebut dengan al- nas.Konsep al- nas inicenderung mengacu pada status manusia dalam kaitannya dengan lingkunganmasyarakat di sekitarnya.Berdasarkan fitrahnya manusia memang makhluk sosial.Dalam hidupnya manusia membutuhkan pasangan, dan memang diciptakanberpasang-pasangan seperti dijelaskan dalam surah an- Nisa’, “Hai sekalianmanusia, bertaqwalaha kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorangdiri, dan dari padanya Allah menciptakan istirinya, dan dari pada keduanya Alahmemperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalahkepada Allah dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama laindan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga danmengawasi kamu.”(QS:4:1).
Selanjutnya dalam surah al- Hujurat dijelaskan: “Hai manusia sesungguhnyaKami menciptakan kamu dari seorng laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikankamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwadi antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS:49:13).
Dari dalil di atas bisa dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial, yangdalam hidupnya membutuhkan manusia dan hal lain di luar dirinya untukmengembangkan potensi yang ada dalam dirinya agar dapat menjadi bagian darilingkungan soisal dan masyarakatnya.
3.    Manusia Sebagai khalifah Allah
Hakikat manusia sebagai khalifah Allah di bumi dijelaskan dalam surah al-Baqarah ayat 30: “Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat:“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Merekaberkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akanmembuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbihdengan memuji engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “SesungguhnyaAku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” (QS:2: 30), dan surah Shad ayat 26,“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (peguasa) di mukabumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamumengikutihawa nafsu. Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. …”(QS:38:26).
Dari kedua ayat di atas dapat dijelaskan bahwa sebutan khalifah itumerupakan anugerah dari Allah kepada manusia, dan selanjutnya manusiadiberikan beban untuk menjalankan fungsi khalifah tersebut sebagai amanah yangharus dipertanggungjawabkan[4].

4.     Manusia Sebagai Bani Adam
Sebutan manusia sebagai bani Adam merujuk kepada berbagai keterangan
dalam al- Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia adalah keturunan Adam dan
bukan berasal dari hasil evolusi dari makhluk lain seperti yang dikemukakan oleh
Charles Darwin. Konsep bani Adam mengacu pada penghormatan kepada nilainilai
kemanusiaan. Konsep ini menitikbertakan pembinaan hubungan
persaudaraan antar sesama manusia dan menyatakan bahwa semua manusia
berasal dari keturunan yang sama. Dengan demikian manusia dengan latar
belakang sosia kultural, agama, bangsa dan bahasa yang berbeda tetaplah bernilai
sama, dan harus diperlakukan dengan sama.

5.    Manusia Sebagai al- Insan
Manusia disebut al- insan dalam al- Qur’an mengacu pada potensi yang
diberikan Tuhan kepadanya. Potensi antara lain adalah kemampuan berbicara
(QS:55:4), kemampuan menguasai ilmu pengetahuan melalui proses tertentu
(QS:6:4-5), dan lain-lain. Namun selain memiliki potensi positif ini, manusia
sebagai al- insan juga mempunyai kecenderungan berprilaku negatif (lupa).
Misalnya dijelaskan dalam surah Hud: “Dan jika Kami rasakan kepada manusia
suatu rahmat, kemudian rahmat itu kami cabut dari padanya, pastilah ia menjadi
putus asa lagi tidak berterima kasih.” (QS: 11:9).


6.    Manusia Sebagai Makhluk Biologis (al- Basyar)
Hasan Langgulung mengatakan bahwa sebagai makhluk biologis manusia
terdiri atas unsur materi, sehingga memiliki bentuk fisik berupa tubuh kasar
(ragawi). Dengan kata lain manusia adalah makhluk jasmaniah yang secara umum
terikat kepada kaedah umum makhluk biologis seperti berkembang biak,
mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan, serta memerlukan makanan
untuk hidup, dan pada akhirnya mengalami kematian. Dalam al- Qur’an surah al-
Mu’minūn dijelaskan: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari
pati tanah. Lalu Kami jadikan saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang
kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu menjadi
segumpal daging, dan segumpal daging itu kemudian Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk berbentuk lain, maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”(QS:
23: 12-14).

Menurut Damono sebagaimana dikutip oleh Oman Sukmana, kata “adab” berasal dari bahasa Arab yang berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti[5]. Adab erat hubungannya dengan:
·         Moral yaitu nilai – nilai dalam masyarakat yang hubungannya dengan kesusilaan
2.2.        Norma yaitu Pengertian Adab dan Peradaban
·         aturan, ukuran atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu yang baik atau salah.
·         Etika yaitu nilai-nilai dan norma moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam mengatur tingksh laku manusia.
·         Estetika yaitu berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, kesatuan, keselarasan dan kebalikan.

Menurut Fairchild sebagaimana yang dikutip oleh Oman Sukmana, “peradaban” adalah perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang diperoleh manusia pendukungnya.
Menurut Bierens De Hans “peradaban” adalah seluruh kehidupan sosial, ekonomi, politik dan teknik. Jadi, peradaban adalah bidang kehidupan untuk  kegunaan yang praktis, sedangkan kebudayaan adalah sesuatu yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih murni diatas tujuan yang praktis hubungannya dengan masyarakat.

Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat “peradaban” adalah bagian-bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti kesenian.Dengan demikian “peradaban” adalah tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula, yang telah mencapai kebudayaan tertentu pula, yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh tingkat ilmu pngetahuan, teknologi dan seni yang telah maju. Masyarakat tersebut dapat dikatakan telah mengalami proses perubahan sosial yang berarti, sehingga taraf kehidupannya makin kompleks.

2.3.        Pengertian Manusia sebagai Makhluk Beradab dan Masyarakat Adab
Manusia disamping sebagai makhluk Tuhan, sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial budaya, dimana saling berkaitan satu dengan yang lain. Sebagai makhluk Tuhan manusia memiliki kewajiban mengabdi kepada Sang Kholik, sebagai makhluk individu manusia harus memenuhi segala kebutuhan pribadinya dan sebagai makhluk sosial budaya manusia harus hidup berdampingan dengan manusia lain dalam kehidupan yang selaras dan saling membantu.
Manusia sebagai makhluk sosial disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai  tanggungjawab seperti anggota masyarakat lain, agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Oleh karena itu, manusia yang bertanggungjawab adalah manusia yang dapat menyatakan bahwa tindakannya itu baik dalam arti menurut norma umum.
Untuk menjadi makhluk yang beradab, manusia senantiasa harus menjunjung tinggi aturan-aturan, norma-norma, adat-istiadat, ugeran dan wejangan atau nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat yang diwujudkan dengan menaati berbagai pranata sosial atau aturan sosial, sehingga dalam kehidupan di masyarakat itu akan tercipta ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian. Dan inilah sesungguhnya makna hakiki sebagai manusia beradab.
Konsep masyarakat adab dalam pengertian yang lain adalah suatu kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Dalam suatu masyarakat yang adil, setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya dianggap  paling cocok bagi setiap orang tersebut, yang tentunya perlu adanya keselarasan dan keharmonisan. Namun demikian keinginan manusia untuk mewujudkan keinnginannya atau haknya sebagai salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan hidup, tidak boleh dilakukan secara berlebihan bahkan merugikan manusia lain. Manusia dalam menggunakan hak untuk memenuhi kepentingan pribadinya tidak boleh melampaui batas atau merugikan kepentingan orang lain. Sebagai suatu anggota masyarakat yang beradab manusia harus bisa menciptakan adanya keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Jadi, perlu adanya suatu kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum









III.           PENUTUP


3.1.        Kesimpulan

Kata “adab” berasal dari bahasa Arab yang berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Peradaban adalah tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula, yang telah mencapai kebudayaan tertentu pula, yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh tingkat ilmu pngetahuan, teknologi dan seni yang telah maju.
Untuk menjadi makhluk yang beradab, manusia senantiasa harus menjunjung tinggi aturan – aturan, norma – norma, adat – istiadat, ugeran dan wejangan atau nilai – nilai kehidupan yang ada di masyarakat yang diwujudkan dengan menaati berbagai pranata sosial atau aturan sosial, sehingga dalam kehidupan di masyarakat itu akan tercipta ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian.
Peradaban sebagai wujud kebudayaan yang bersifat non – materiil, seperti adat sopan santun pergaulan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini manusia senantiasa memegang teguh nilai-nilai yang ada, baik berupa moral, norma, etika, dan estetika.

3.2.        SARAN

Dengan pengertian adab dan peradaban yang disampaikan diatas   bahwa
adab dan peradaban di masyarakat memiliki peran yang sangat setral dalam kehidupan masyarakat dan sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dari makalah ini diharapkan kita bisa belajar dan mengerti akan peradaban, sehingga bisa diterapkan di kehidupan sehari – hari.

















DAFTAR PUSTAKA

1.  Bangbang S. Mintargo.1993. Manusia dan Nilai Budaya. Jakarta: Universitas Trisakti
2.  Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: Rosda Karya, 2007, hal. 29.
HAKIKAT MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM DAN BARAT302 | Jurnal
Ilmiah Didaktika Vol. XIII, No. 2, Februari 2013.
3.  http://HAKEKAT%20MANUSIA%20MENURUT%20ALQURAN.html// di akses pada
tanggal 22 Maret 2016 pukul 16.30
6.  Iskandar. 1980. Teknologi dan Perkembangan. Jakarta: Yayasan Idayu.
7.  Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali
Press,2007,hal.105-109.
8.  Siti Khasinah.Jurnal Ilmiah Didaktika Vol. XIII, No. 2, Februari 2013 | 301
9.  Siti Khasinah, Jurnal Ilmiah Didaktika Vol. XIII, No. 2, Februari 2013 | 305
10.    Suito, Deny. 2006. Membangun Masyarakat Madani. Centre For Moderate Muslim
Indonesia: Jakarta.
11.    Prasetya, Joko Tri. 1991. Ilmu Budaya Dasar. Rineka Cipta: Jakarta. Alisyahbana,
12.    Yusuf Qardhawi, Pendidikan dan Madrasah Hasan al-Banna, Jakarta: Bulan
      Bintang, 1994,hal. 135.









[1]Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press, 2007, hal. 105-109.

[2]Siti KhasinahJurnal Ilmiah Didaktika Vol. XIII, No. 2, Februari 2013 | 301
[3]Sardiman, Interaksi dan Motivasi..., hal. 110.Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: Rosda Karya, 2007, hal. 29.HAKIKAT MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM DAN BARAT302 | Jurnal Ilmiah Didaktika Vol. XIII, No. 2, Februari 2013

[4]Desmita, Psikologi Perkembangan..., hal. 18-31.Yusuf Qardhawi, Pendidikan dan Madrasah Hasan al-Banna, Jakarta: Bulan Bintang, 1994,hal. 135.Siti KhasinahJurnal Ilmiah Didaktika Vol. XIII, No. 2, Februari 2013 | 303 Siti KhasinahJurnal Ilmiah Didaktika Vol. XIII, No. 2, Februari 2013 | 305



Baca juga

Headline news